KOMPERASI BUDAYA KERJA AMERIKA DAN INDONESIA
Nama : Ardans Galih Pranata
Nim : 43219012
Mata Kuliah : Komunikasi Internasional
Dosen : Ery Fajarwaty P, S.S.,M.A
Semester : 5
Semester : Ganjil 2021/2022
Jumlah SKS : 3
KOMPARASI BUDAYA KERJA AMERIKA DAN INDONESIA
Setiap tempat memiliki budaya kerja yang berbeda-beda. Jangankan berbeda benua, berbeda negara pun terkadang berbeda pula budaya kerja yang diterapkannya. Perbedaaan budaya tersebut seringkali menjadi hambatan bagi kita yang ingin bekerja di perusahaan asing. Karena perbedaan budaya mencangkup perbedaan etika, perbedaan cara bekerja, perbedaan menyampaikan pendapat, perbedaan cara bersosialisasi dan lainnya.
Salah satu budaya kerja yang mungkin akan kita temui adalah budaya kerja orang Amerika. Banyak perusahaan di Indonesia yang mengambil budaya kerja Amerika yang lebih fleksibel dan tidak terikat. Selain itu, banyak pula perusahaan asal Amerika yang mendirikan perusahaan di Indonesia. Lalu seperti apa budaya kerja Amerika? Dikutip dari christinarebuffet.com, berikut adalah budaya kerja Amerika:
Individualis
Amerika terkenal dengan budaya individualis. Bahkan pahlawan-pahlawan super asal amerika selalu digambarkan bekerja sendiri, do it yourself. Faktanya, penelitian yang dilakukan oleh The Hofstede Center, 50 perusahaan di Amerika, memiliki budaya kerja yang individualis. Dapat menyelesaikan pekerjaan sendiri merupakan sesuatu yang cukup membanggakan di sana. Para karyawan pun ingin diberi kebebasan untuk mencari jalan keluar atas pekerjannya sendiri. Bahkan beberapa karyawan merasa kurang nyaman saat terlalu diatur oleh managernya saat sedang menyelesaikan pekerjaan.
Pekerjaan sangatlah Penting
Orang Amerika sangat perduli dengan pekerjaan. Mereka cenderung mendefinisikan diri berdasarkan pekerjaan yang dimiliki. Selain itu, mereka seringkali sulit membagi waktu antara pekerjaan dengan waktu pribadi. Tak jarang hari libur diisi dengan pekerjaan. Menurut penelitian, orang Amerika memiliki waktu bekerja yang cukup panjang. Dalam satu minggu mereka bisa menghabiskan lebih dari 50 jam untuk bekerja.
Komunikasi di kantor
Orang Amerika lebih mudah bersosialisasi saat bertemu orang baru. Mereka cenderung lebih mudah membangun komunikasi saat bertemu orang lain. Hal positif lainnya adalah mengenai gaya manager di perusahaan Amerika saat memberikan feedback kepada bawahannya. Mereka cenderung akan memberikan pendapat dengan positif dan lebih mudah dalam memberikan apresiasi kepada bawahannya.
Selain itu, etika saat memberikan kritikan kepada orang lain adalah memberikan kritikan dengan cara positif dan menjawabnnya dengan umpan balik yang lebih positif.
Budaya kerja Amerika memang sangat berbeda dengan budaya kerja yang diterapkan di Indonesia. Jika budaya kerja Amerika bersifat individualis, sedangkan budaya kerja di Indonesia cenderung menerapkan sistem gotong royong atau teamwork.
Indonesia dan Amerika Serikat memang adalah dua negara yang sangat berbeda. Indonesia menggunakan paham ekonomis campuran dan Amerika Serikat menggunakan paham ekonomis yang sangat kental dengan idealogi kapitalisnya. Tentu di benak anda akan berpikir pasti perbedaan sistem ekonomi ini akan menimbulkan keberagaman yang sangat besar di bidang budaya kerja. Secara mengejutkan budaya kerja di Indonesia dan Amerika dapat dikatakan kurang lebih sama. Komparasi gaya kerja di Jakarta dengan perusahaan-perusahaan besar yang berada di Amerika bagian barat.
Persamaan Budaya Kerja Amerika Serikat dengan Indonesia.
Dari segi waktu bekerja, pekerja Indonesia dan Amerika terbilang relatif sama. Jam kerja di Indonesia di mulai pada pukul 8 pagi dan berakhir pada pukul 17.30 sore hari. Pada pukul 19.00 biasanya kantor sudah mulai sepi karena mayoritas perkeja sudah pulang. Hanya sedikit orang yang meninggalkan kantor tepat waktu atau tetap bekerja di kantor sampai melebihi pukul 19.00 sore. Untuk urusan bekerja, bergurau, dan bersosialisasi sepertinya seimbang dan tidak ada kendala .Waktu rapat biasanya hanya sebentar namun pegawai tidak akan dimarahi jika datang agak telat. Namun perbedaan signifikan biasanya terjadi apabila ada pergantian musim tertentu, terumata musim dingin di Amerika Serikat. Beberapa perusahaan mempunyai jam kerja yang lebih sedikit pada musim salju. Hal ini dikarenakan lamanya matahari bersinar saat musim dingin itu sangat sedikit dan membuat orang tidak produktitif kerja, atau karena alasan lain.
Perbedaan Budaya Kerja Amerika Serikat dengan Indonesia.
Amerika
Lebih serius menyakut batasan waktu (deadline) dibandingkan orang Indonesia.
Mengikuti perkembangan tugas dengan lebih serius.
Memiliki plan B jika plan A tidak dapat dilaksanakan.
Suka menegur orang saat berada di lift ataupun saat mengisi minum.
Indonesia
Cenderung tidak menggunakan waktu yang diberikan dengan sungguh-sungguh walaupun mereka tetap dapat menyelesaikan tugas tepat waktu.
Panik saat mengalami kegagalan.
Bagi orang Indonesia, menegur orang setiap saat bukanlah hal yang sering mereka lakukan. Jangan pernah bertanya "bagaimana liburanmu?" karena bagi mereka itu sama saja seperti menanyakan "bagaimana hubungan intimmu semalam?".
Salah satu perbedaan yang besar pada gaya kerja orang Indonesia dan orang US adalah dimana orang Indonesia cenderung menyikapi kedudukan dengan lebih serius. Sebagai contoh, seorang pegawai dengan jabatan junior manager lebih memilih untuk tidak jadi makan dibandingkan jika mereka harus berbagi meja dengan Wakil ketua perusahaan tempat mereka bekerja. Hal ini berbanding terbalik dengan orang Amerika yang berpikir bahwa ini adalah peluang bagus untuk dapat lebih mengenal sang Wakil ketua.
Perbedaan budaya kerja ini pasti di karenakan beberapa faktor. Bisa karena faktor ideologis, atau karena faktor geografis. Tapi secara garis besar, rata rata pekerja dunia memiliki budaya kerja yang sama dengan negara lain.
Indonesia merupakan salah satu negara dimana fenomena Intercultural marriage berkembang. Intercultural marriage yang merupakan suatu hubungan yang rentan atas konflik dikarenakan kurangnya kompetensi budaya yang dimiliki pasangan intercultural marriage, membuat manajemen konflik menjadi peranan penting dalam hubungan intercultural marriage. Pentingnya kompetensi budaya dan manajemen konflik dalam intercultural marriage konflik, problematika komunikasi antarbudaya, kompetensi budaya dan strategi manajemen konflik dalam perkawinan antarbudaya. Permasalahan yang sering kali menjadi sumber-sumber konflik dalam hubungan intercultural marriage antara lain pola asuh anak, keuangan, makanan, tempat tinggal, dan keluarga sedangkan problematika komunikasi antarbudaya dalam hubungan intercultural marriage terkait gaya komunikasi, perbedaan konsep waktu dan etnosentrisme. Dalam menangani konflik, pasangan intercultural marriage menggunakan gaya manajemen konflik kolaborasi, kompetisi, penghindaran dan akomodasi. Problematika dan gaya manajemen konflik tersebut dipengaruhi oleh kompetensi budaya yang dimiliki pasangan intercultural marriage, pasangan yang memiliki faktor motivasi, pengetahuan dan keterampilan memiliki hubungan intercultural marriage yang lebih efektif.
Daftar Pustaka
Liliweri, Alo (2005) Prasangka dan Konflik, Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat
Multikultur. Yogyakarta : LKiS
Mulyana, Dedy (2004) Komunikasi Efektif. Suatu Pendekatan Lintas Budaya. Bandung :
Remaja Rosdakarya
____________ (2008) Ilmu Komunikasi, Suatu Pengantar. Bandung : Remaja Rosdakarya
____________ (2010) Komunikasi Antarbudaya, Panduan Berkomunikasi dengan Orangorang Berbeda Budaya. Bandung : Remaja Rosdakarya
Pawito (2008) Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta : LkiS
Sihabudin, Ahmad (2013) Komunikasi Antarbudaya, satu Perspektif Multidimensi. Jakarta : Bumi Aksara
Mat, Zahwah & Sulaiman, Mashitah (Volume 8, 2007) Interaksi budaya India & Cina ke atas pengukuhan bahasa dalam Tamadun Melayu. Malaysia : Jurnal Pengajian Umum
University Kebangsaan Malaysia
Budi, Widodo Prasetyo. (2006) Konsep Diri Mahasiswa Jawa Pesisiran dan Pedalaman.
Semarang : Jurnal Psikologi Undip
Komentar
Posting Komentar