Mitos Penciptaan
Adanya dewa pencipta, yang memisahkan langit dan bumi, serta menciptakan manusia baik dari tanah liat, ranting, keringat, bahkan kutu dari dewa pencipta itu sendiri Dalam kebudayaan Mesir kuno, dewa pencipta ini adalah Amun-Ra, sedangkan dalam kebudayaan suku Indian Keres di Amerika, dewa pencipta mereka dikenal dengan nama Thinking Woman yang menciptakan alam semesta lewat pikirannya. Kepercayaan Kristen lewat mitos penciptaan selama enam hari juga termasuk dalam mitos penciptaan melalui kekuatan pikiran dewa.
Selain melalui kekuatan pikiran, ada beberapa kebudayaan yang memiliki mitos bahwa dunia diciptakan dari air yang tidak berujung, bahwa tanah akan muncul dari genangan air ini. Mitos penciptaan Babylonia menceritakan bahwa dunia dan isinya tercipta dari pertemuan antara air laut dan air tawar. Suku Ainu di Jepang juga percaya bahwa pada awalnya dewa pencipta Kotan-kor-kamuy mengutus berang-berang dari surga untuk menyelam ke dalam air dan mengambil tanah untuk membuat dunia.
Dalam kepercayaan Hindu, dewa Brahma adalah sumber dari segalanya dan penciptaan adalah proses berulang secara kontinu. Ketika Brahma bangun, dunia dan isinya akan tercipta, sedangkan ketika Brahma tidur maka seluruh dunia dan isinya akan hilang. Konsep penciptaan adalah proses berulang ini juga dipercayai oleh masyarakat Norwegia, bahwa perang akhir yang dikenal dengan nama Ragnarok akan menjadi suatu awal dunia yang baru.
Fungsi yang dapat diambil dari mitos penciptaan bahwa mitos ini memperkenalkan manusia pada kekuatan yang lebih besar yang “menciptakan” manusia. Mitos penciptaan ini juga memperkenalkan manusia pada dunia para dewa, yang harus dihormati dan mengajarkan manusia untuk tidak merusak hasil ciptaan lainnya. Kemiripan antarmitos dan fungsinya dapat dilihat secara detail di beberapa contoh berikut.
Menurut mitos penciptaan Yunani kuno pada awal penciptaan hanya ada kehampaan yang bernama Chaos. Setelahnya muncul ada kekuatan bernama Gaia, mengambil bentuk burung merpati, dan menetaskan Uranus (dewa langit), Ourea (dewa gunung), Pontus (dewa laut), dan bagian-bagian lain dari cosmos. Gaia dan Uranus memiliki anak yaitu Cyclops, raksasa yang memiliki satu mata sebagai penghuni bumi pertama. Uranus tidak menyukai Cyclops karena dianggap dapat merebut kekuatannya. Sama seperti mitos yang menjelaskan mengenai penciptaan dunia, maka mitos juga menjelaskan mengenai bagaimana dunia akan berakhir dan apa yang dapat dilakukan oleh manusia untuk mencegah hal tersebut. Hampir di setiap mitos yang menceritakan mengenai akhir dunia juga disertai dengan bencana yang telah terjadi di masa lalu dan peringatan bagi masyarakatnya mengenai bencana lebih besar di masa depan.
Suku Indian Maya percaya bahwa waktu adalah sarana yang memerangkap dewa-dewa perusak di dalam bintang-bintang di angkasa. Hal ini juga dipercaya oleh masyarakat Persia. Waktu adalah sarana yang menjaga dewa perusak Ahriman agar tidak merusak dunia. Sedangkan bangsa Mesir percaya suatu waktu nanti dewa Ra akan merasa lelah dengan dunia yang ada sekarang ini, dan karena itu akan mengakhiri dunia yang dia ciptakan.
Dari mitos-mitos seperti ini muncul ritual-ritual untuk mencegah akhir dari dunia yang harus dilakukan oleh manusia secara berkala. Seperti perayaan tahun baru bangsa Babylonia kuno ditujukan untuk menjaga kekuatan jahat di luar dunia dan memberikan kesempatan bagi dewa Marduk untuk menjaga keseimbangan dunia selama setahun berikutnya.
Nilai-nilai implisit dari ritual seperti ini berasal dari ide bahwa manusia harus melakukan sesuatu agar dunia tidak berakhir atau berubah kembali ke fase awal (lautan tidak berujung). Manusia harus menjaga dunia dan lingkungan alam agar tidak terjadi bencana lebih besar. Sama seperti mitos yang menjelaskan mengenai penciptaan dunia, maka mitos juga menjelaskan mengenai bagaimana dunia akan berakhir dan apa yang dapat dilakukan oleh manusia untuk mencegah hal tersebut. Hampir di setiap mitos yang menceritakan mengenai akhir dunia juga disertai dengan bencana yang telah terjadi di masa lalu dan peringatan bagi masyarakatnya mengenai bencana lebih besar di masa depan.
Suku Indian Maya percaya bahwa waktu adalah sarana yang memerangkap dewa-dewa perusak di dalam bintang-bintang di angkasa. Hal ini juga dipercaya oleh masyarakat Persia melalui sarana yang menjaga dewa perusak Ahriman agar tidak merusak dunia. Sedangkan bangsa Mesir percaya suatu waktu nanti dewa Ra akan merasa lelah dengan dunia yang ada sekarang ini, dan karena itu akan mengakhiri dunia yang dia ciptakan.
Dari mitos-mitos seperti ini muncul ritual-ritual untuk mencegah akhir dari dunia yang harus dilakukan oleh manusia secara berkala. Seperti perayaan tahun baru bangsa Babylonia kuno ditujukan untuk menjaga kekuatan jahat di luar dunia dan memberikan kesempatan bagi dewa Marduk untuk menjaga keseimbangan dunia.
Nilai-nilai implisit dari ritual seperti ini berasal dari ide bahwa manusia harus melakukan sesuatu agar dunia tidak berakhir atau berubah kembali ke fase awal (lautan tidak berujung). Manusia harus menjaga dunia dan lingkungan alam agar tidak terjadi bencana lebih besar. Di zaman modern, nilai-nilai dalam mitos tetap dipelihara dan diturunkan melalui media modern, salah satunya adalah melalui film layar lebar. Sebagai contoh, film produksi Hollywood selalu mengedepankan mitos bahwa Amerika adalah bangsa terhebat. Jagoan dalam cerita biasanya adalah orang Amerika, sedangkan film produksi Inggris memiliki fantasi untuk menantang pasar
Amerika dan film buatan Hollywood.Nilai-nilai utama mitos ditambah dengan persepsi modern inilah yang akan diturunkan ke masyarakat, sehingga masyarakat memiliki persepsi baru dan berujung pembuatan cerita mitos baru. Contoh dari hal ini adalah Disney yang mengubah crita film klasik mereka, pada cerita klasik digambarkan wanita hanya bisa menunggu diselamatkan oleh pria namun di versi modern diganti dengan nilai-nilai keluarga. Pergeseran ini menandakan fungsi modern dari mitos, Hal ini sejalan dengan fungsi mitos.
mengatur aktivitas sehari-hari manusia baik disadari maupun tidak, dan mitos juga mejadi cetakan atau template mengenai apa yang baik dan buruk di suatu masyarakat. Walaupun mitos selalu berkembang,
Nilai-nilai inti yang disampaikan selalu sama dan berupa pedoman agar manusia dapat survive di lokasi atau situasi tertentu. bahwa mitos mengatur aktivitas sehari-hari manusia baik disadari maupun tidak, dan mitos juga mejadi cetakan atau template mengenai apa yang baik dan buruk di suatu masyarakat. Walaupun mitos selalu berkembang, nilai-nilai inti yang disampaikan selalu sama dan berupa pedoman agar manusia dapat survive di lokasi atau situasi tertentu.
Sebagai saran, mitos tetap diperlukan oleh manusia bahkan sampai saat ini. Karena itu perlu adanya keberlangsungan penyampaian mitos kepada generasi penerus. Saat ini mitos dapat disampaikan baik dalam bentuk lisan, melalui dongeng kepada anak, maupun dalam bentuk nonlisan hingga bentuk digital, misalnya dalam bentuk film dan buku.
Penulis; Ardans Galih Pranata. Mahasiswa Komunikasi Universitas Peradaban Bumiayu.
Referensi_ Danandjaja, J. (1997). Folklor Jepang Dilihat dari Kacamata Indonesia. Jakarta: Pustaka Utama
Grafiti.
Eriyanto. (2002). Analisis Framing. Yogyakarta: LKiS Yogyakarta.
Fimi, D. (2006). "Mad" Elves and "Elusive Beauty": Some Celtic Strands of Tolkien's Mythology.
Folklore , 117(2), 156–170.
Komentar
Posting Komentar