PERBEDAAN BUDAYA DAN BAHASA DI KECAMATAN BANTARKAWUNG
PERBEDAAN BUDAYA DAN BAHASA
DI KECAMATAN BANTARKAWUNG
Di Susun Oleh :
ARDANS GALIH PRANATA
43219012
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS PERADABAN BUMIAYU
TAHUN 2020
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur dipanjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan hidayah-Nya dan juga kesempatan dan nikmat berupa kesehatan sehingga kami bisa menyelesaikan Laporan mata kuliah. Shalawat serta salam kita sampaikan kepada Nabi besar kita Muhammad SAW yang telah memberikan pedoman hidup yakni Al-Qur’an dan sunnah untuk keselamatan umat di dunia.
Laporan ini merupakan salah satu tugas mata kuliah di program studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik pada Universitas Peradaban Bumiayu. Kemudian juga tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah memberikan bimbingan serta arahan dan juga petunjuk selama penulisan Laporan ini.
Penulis menyadari bahwa terdapat banyak kekurangan dalam penulisan Laporan ini, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca demi kesempurnaan Laporan ini.
Bumiayu, 04 November 2020
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I PEMBUKAAN
BAB II PENDAHULUAN
Latar Belakang
BAB II PEMBAHASAN
Letak Kabupaten Brebes
Asal Usul Kecamatan Bantarkawung
Seni Dan Budaya Kecamatan Bantarkawung
BAB III PENUTUP
Simpulan
Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PEMBUKAAN
Di sini saya akan membahas kebudayaan dan bahasa yang ada di kabupaten brebes. Seperti yang kita tahu kabupaten brebes memiliki banyak kecamatan seperti kecamatan salem, banjarharjo, dan bantarkawung, dan sebagian lagi ada beberapa kecamatan seperti losari, tanjung, kersana, ketanggungan dan larangan. Tapi kecamatan tersebut memiliki bahasa yang berbeda sebagian kecamatan berbahasa sunda dan kebagian kecamatan berbahasa jawa dan bahakan di satu kecamatan yang memiliki banyak desa bahasa di desa tersebut beda-beda bahasa dan mempunyai bahasa tersendiri.
Dan yang lebih tepatnya di kecamatan bantarkawung ada banyak desa dan ada desa yang berdekatan tapi berbeda bahasa yaitu desa buaran dan desa pangabatan. Desa tersebut satu kecamatan dan bahakan saling berdekatan. Dan dari situ saya ingin lebih tahu mengapa desa tersebut bisa beda bahasa pedahalakan masih satu kecamatan.
BAB II
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kecamatan Bantarkawung
Bantarkawung adalah sebuah kecamatan yang ada di Brebes terutama di bagian selatan dekat dengan kota Bumiayu, Bantarkawung sendiri memiliki kurang lebih 18 desa/kelurahan yaitu Bangbayang, Banjarsari, Bantarkawung, Bantarwaru, Cibentang, Cinanas, Ciomas, Jipang, Karangpari, Kebandungan, Legok, Pangebatan, Pangerasan, Sindangwangi, Tambakserang, Telaga, Terlaya dan Waru. Kesemuanya itu berbahasa Sunda tapi ada juga yang memakai bahasa jawa terutama di Desa Pangebatan (Buaran), Cinanas dan Cibentang. kantor kecamatan Untuk kegiatan sehari-harinya masyarakatnya memilih bertani, dan berdagang dan mayoritas beragama islam. Pusat perdagangan sendiri berada di desa Bangabayang yaitu tempat transaksi penjualan seperti pasar dan untuk selebihnya mereka selalu berbelanja ke kota Bumiayu karena di sana tempat yang paling ramai dan lengkap meskipun bahasanya tidak sama tapi itu tak menyurutkan aktivitas masyarakat sunda yang ada di Bantarkawung. Tetangga paling dekat dengan Bantarkawung yaitu kecamatan Salem dan pola hidupnya hampir sama dengan masyarakat Bantarkawung terlebih dari Salem sendiri lebih memilih pusat perbelanjaan yang ada di Bantarkawung dan Bumiayu. Apabila mengintip budaya Bantarkawung terutama suku sunda masih mengarah ke sunda jawa barat seperti adanya kentongan, angklung, jaipong yang masih melekat sekali terutama di desa Jipang sebagai pelopor menjaga kelestarian budaya sunda. Tidak heran kalau berkunjung ke desa Jipang setiap ada hajatan selalu menampilakn organ tunggal yang dicampur dengan irama sunda ala jaipong hingga alunan musiknya terdengar sampai ke desa lain yang masih berdekatan dengan desa Jipang. Kemudian kalau melihat letak Bantarkawung sendiri berada di daerah perbukitan dan pegunungan yang ditanami pohon pinus dan jati juga terdapat aliran sungai yang cukup besar seperti ciraja terletak di dukuh pakiringan, cipamali dan masih banyak lagi. Untuk sarana kemaysarakatan berada di desa Bantarkawung seperti puskesmas, kantor kecamatan dan kantor kepolisian masing-masing memiliki akses yang cukup membantu. Itulah keadaan masyarakat yang ada di Bantarkawung dan mungkin info ini masih kurang lengkap dan harus ditelusuri lebih lanjut.
Manfaat Penelitian
Manfaatnya penelitian ini Kita bisa tahu asal usulnya kecamatan bantarkawung dan bagi mana sejarahnya zaman dahulu tentang kecamaatan bantarkawung yang ada di kabupaten brebes ini sehingga bias di beri nama bantarkawung.
Dan penelitian ini saya buat untuk memenuhi tugas mata kuliah dan untuk saya pribadi biar mengetahui asal-usul yang sebenarnya tentang kecamatan bantarkawung dan umumnya untuk kita semua masyarkat kecamatan bantarkawung kabupaten brebes.
Harapan saya atas penelitian ini kita biasa mengambil pelajaran dari sejarah tentang kecamatan bantarkawung dan biasa menjaga semua peninggalan-peninggalannya ini. Seperti kita menjaga bahasa dan budaya yang telah ada sejak jaman sejarah.
BAB III
PEMBAHASAN
Letak Kabupaten Brebes
Kabupaten Brebes terletak di bagian Utara paling Barat Provinsi Jawa Tengah, di antara koordinat 108° 41'37,7" - 109° 11'28,92" Bujur Timur dan 6° 44'56'5" - 7° 20'51,48 Lintang Selatan dan berbatasan langsung dengan wilayah Provinsi Jawa Barat. Penduduk Kabupaten Brebes mayoritas menggunakan bahasa Jawa yang yang mempunyai ciri khas yang tidak dimiliki oleh daerah lain, biasanya disebut dengan Bahasa Jawa Brebes. Namun terdapat Kenyataan pula bahwa sebagian penduduk Kabupaten Brebes juga bertutur dalam bahasa Sunda dan banyak nama tempat yang dinamai dengan bahasa Sunda menunjukan bahwa pada masa lalu wilayah ini adalah bagian dari wilayah Sunda. Daerah yang masyarakatnya sebagian besar menggunakan bahasa Sunda atahu biasa disebut dengan Bahasa Sunda Brebes, adalah meliputi Kecamatan Salem,Banjarharjo,dan Bantarkawung, dan sebagian lagi ada di beberapa desa di Kecamatan Losari,Tanjung,Kersana,Ketanggungan dan Larangan.
Peta jalan raya rute bumiayu-bantarkawung
Berdasarkan naskah kuno primer Bujangga Manik (yang menceriterakan perjalanan Prabu Bujangga Manik, seorang pendeta Hindu Sunda yang mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di pulau Jawa dan Bali pada awal abad ke-16), yang saat ini disimpan pada Perpustakaan Boedlian, Oxford University, Inggris sejak tahun 1627, batas Kerajaan Sunda di sebelah timur adalah Ci Pamali (sekarang disebut sebagai Kali Brebes atahu Kali Pemali yang melintasi pusat kota Brebes) dan Ci Serayu (yang saat ini disebut Kali Serayu) di Provinsi Jawa Tengah.
Ibukota kabupaten Brebes terletak di bagian timur laut wilayah kabupaten. Kota Brebes bersebelahan dengan Kota Tegal, sehingga kedua kota ini dapat dikatakan "menyatu".Brebes merupakan kabupaten yang cukup luas di Provinsi Jawa Tengah. Sebagian besar wilayahnya adalah dataran rendah. Bagian barat daya merupakan dataran tinggi (dengan puncaknya Gunung Pojoktiga dan Gunung Kumbang), sedangkan bagian tenggara terdapat pegunungan yang merupakan bagian dari gunung selamet.
Dengan iklim tropis, curah hujan rata-rata 18,94 mm per bulan. Kondisi itu menjadikan kawasan tesebut sangat potensial untuk pengembangan produk pertanian seperti tanaman padi, hortikultura, perkebunan, perikanan, peternakan dan sebagainya.
Asal-usul Kecamatan Bantarkawung
Bantarkawung adalah sebuah kecamatan yang ada di Brebes terutama di bagian selatan dekat dengan kota Bumiayu, Bantarkawung sendiri memiliki kurang lebih 18 desa/kelurahan yaitu Bangbayang, Banjarsari, Bantarkawung, Bantarwaru, Cibentang, Cinanas, Ciomas, Jipang, Karangpari, Kebandungan, Legok, Pangebatan, Pangerasan, Sindangwangi, Tambakserang, Telaga, Terlaya dan Waru. Kesemuanya itu berbahasa Sunda tapi ada juga yang memakai bahasa jawa terutama di Desa Pangebatan (Buaran), Cinanas dan Cibentang. kantor kecamatan Untuk kegiatan sehari-harinya masyarakatnya memilih bertani, dan berdagang dan mayoritas beragama islam. Pusat perdagangan sendiri berada di desa Bangabayang yaitu tempat transaksi penjualan seperti pasar dan untuk selebihnya mereka selalu berbelanja ke kota Bumiayu karena di sana tempat yang paling ramai dan lengkap meskipun bahasanya tidak sama tapi itu tak menyurutkan aktivitas masyarakat sunda yang ada di Bantarkawung. Tetangga paling dekat dengan Bantarkawung yaitu kecamatan Salem dan pola hidupnya hampir sama dengan masyarakat Bantarkawung terlebih dari Salem sendiri lebih memilih pusat perbelanjaan yang ada di Bantarkawung dan Bumiayu. Apabila mengintip budaya Bantarkawung terutama suku sunda masih mengarah ke sunda jawa barat seperti adanya kentongan, angklung, jaipong yang masih melekat sekali terutama di desa Jipang sebagai pelopor menjaga kelestarian budaya sunda. Tidak heran kalau berkunjung ke desa Jipang setiap ada hajatan selalu menampilakn organ tunggal yang dicampur dengan irama sunda ala jaipong hingga alunan musiknya terdengar sampai ke desa lain yang masih berdekatan dengan desa Jipang. Kemudian kalau melihat letak Bantarkawung sendiri berada di daerah perbukitan dan pegunungan yang ditanami pohon pinus dan jati juga terdapat aliran sungai yang cukup besar seperti ciraja terletak di dukuh pakiringan, cipamali dan masih banyak lagi. Untuk sarana kemaysarakatan berada di desa Bantarkawung seperti puskesmas, kantor kecamatan dan kantor kepolisian masing-masing memiliki akses yang cukup membantu. Itulah keadaan masyarakat yang ada di Bantarkawung dan mungkin info ini masih kurang lengkap dan harus ditelusuri lebih lanjut.
Bantarkawung adalah salah satu kecamatan di Kabupaten brebes kota bumiayu bagian barat, jawa tengah Kecamatan Bantarkawung terdiri atas 12 desa. Dusun Buaran di Desa Pangebatan adalah pusat kegiatan ekonomi masyarakat Bantarkawung bagian timur. Di desa Pangebatan terdapat SMA Negeri 1 Bantarkawung merupakan satu-satunya sekolah negeri di Kec. Bantarkawung dengan nilai akreditasi A. Di dekatnya terdapat tempat wisata Pemandian Air Panas Cipanas Buaran. Adapun kegiatan unggulan SMA Negeri 1 Bantarkawung diantaranya VolleyBall yang selalu menjuarai tingkat karesidenan Pekalongan.
Seni dan budaya Kecamatan Bantarakawung
Di Kecamatan Bantarkawung, Bahasa yang digunakan sebagian besar masyarakat adalah Bahasa Sunda, beberapa desa sebelah timur sebagaian besar menggunakan bahasa jawa yaitu desa cinanas, pangebatan. Wilayah Kecamatan bantarkawung, terletak antara : 108°48’47,3” sampai dengan 108°58’42,4” bujur timur. 7°6’3,6” sampai dengan 7°19’24,1” lintang selatan. Luas 205 km2 terbagi secara administratif menjadi 18 desa, 97 RW dan 413 RT. Secara topografi wilayah Bantarkawung berada pada ketinggian kurang dari 500 m dari permukaan laut. Kondisi fisik daerah berupa daratan, persawahan dan perbukitan. Kondisi perbukitan inilah yang acapkali terutama di musim “ Rendheng “ terjadi bencana alam berupa tanah longsor.
Kurang lebih itulah sejarah dari kec. Bantarkawung dan kabupaten brebes...alangkah baiknya jika kita mengenal sejarah dan menghargai sejarah. semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan tentang sejarah khususnya bagi masyarakat bantarkawung dan umumnya bagi seluruh masyarakat indonesia.....
Pangebatan adalah desa di kecamatan Bantarkawung, Brebes, Jawa Tengah, Indonesia. Bahasa yg digunakan oleh masyarakat Desa Pangebatan juga terbilang unik karena hanya sebagian kecil saja yang berbahasa Jawa adapun selebihnya mnggunakan bahasa Sunda. Jumlah penduduk desa ini adalah yang terpadat di kecamatan Bantarkawung. Sepanjang batas timur desa ini merupakan aliran Sungai Pemali. Desa Pangebatan dilintasi jalan penghubung Salem-Bumiayu. Asal-usul Desa Buaran adalah desa di kecamatan Bantarkawung, Brebes, Jawa Tengah, Indonesia.
Buaran adalah salah satu desa di wilayah kecamatan Bantarkawung Kabupaten Brebes Jawa Tengah. Desa ini menjadi batas wilayah antara kecamatan Bantarkawung dengan kecamatan Bumiayu, yang terletak sekitar 7 Km ke arah timur dari desa tersebut. Populasi penduduk desa Buaran sekitar 3000 orang.
BUARAN sendiri berasal dari kata "Pabuaran" yaitu suatu tempat lapang yang luas yang di tumbuhi oleh rumput ilalang yang dipergunakan untuk menggembala hewan ternak. Tempat ini dijadikan desa oleh Laskar Diponegoro yang memang saat itu melintasi kawasan tersebut, dan saat ini keturunannya masih ada di Buaran.
Buaran merupakan daerah yang cukup makmur secara ekonomi dengan penghasilan utama berupa pertanian padi. Di samping itu, Buaran juga menjadi sentral perdagangan dan pasar tradisional, yaitu tepat nya ada di ujung jalan arah pertigaan Cipanas dan Tanjung(daerah tetangga sekitarnya). Selain perdagangan, banyak warga Buaran yang memiliki bisnis transportasi angkutan pedesaan (Angkudes) berupa minibus. Angkudes ini menjadi sarana sosial-ekonomi yang sangat penting untuk menghubungkan desa Buaran dengan kota-kota dan desa-desa di sekitarnya, terutama dalam rangka kegiatan perekonomian. Di antara warga Buaran juga banyak yang menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) seperti guru dan polisi dan juga TNI. Selain itu, banyak warga Buaran yang merantahu ke daerah-daerah lain di Indonesia di mana mereka menjadi bagian dispora warga Buaran. Selain menjadi pedagang, tujuan mereka merantahu adalah untuk menjadi pekerja di berbagai sektor industri di kota besar, khususnya di Jakarta. Berbagai faktor ekonomi ini menjadi bagian penting sumber ekonomi masyarakat Buaran. Yang harus dipikirkan, banyaknya angka migrasi masyarakat Buaran ini dikhawatirkan akan mengancam keberlangsungan (sustainability) sektor pertanian yang selama ini diandalkan sebagai lumbung pendapatan ekonomi karena berkurangnya jumlah petani.
Salah satu budaya unik masyarakt buaran adalah kebiasaan sarapan pagi yang berupa gorengan tempe dan dage serta urap (masyarakat setempat menyebutnya kluban). Tidak ada perbedaan antara warga dari kelas ekonomi menengah atahu kelas ekonomi bawah, anak-anak atahu orang tua, dalam melakukan kebiasaan sarapan seperti ini. Hampir setiap pagi, salah satu anggota keluarga mengantri di warung-warung gorengan dan kluban tersebut.
Desa Buaran juga dilintasi salah satu sungai terbesar di kabupaten Brebes, yaitu sungai Pemali. Meski sering meluap, sungai indah ini banyak memberi manfaat bagi masyarakat desa. Selain sebagai sumber pengairan bagi pertanian, masyarakat juga memanfaatkanya sebagai tempat mencari ikan. Masyarakat juga menggunakan sungai ini untuk keperluan mandi, cuci dan kakus (MCK). Salah satu yang terkenal dari sungai ini adalah mitos tentang hantu sungai berupa Meyangga yang sering meminta korban atahu tumbal nyawa.
Di desa tersebut juga terdapat salah satu pusat pariwasata berupa Pemandian Air Panas Cipanas yang terletak sekitar 2 Km dari pusat desa. Tempat wisata ini sangat terkenal bagi warga di Kabupaten Brebes dan sekitarnya. Selain untuk rekreasi, Pemandian tersebut juga berguna untuk pengobatan berbagai jenis penyakit, seperti penyakit kulit dan pegal-pegal. Pariwisata ini merupakan salah satu penyubang APBD yang cukup signifikan bagi Kabupaten Brebes. Tempat wisata ini juga dikelilingi oleh bukit hijau yang ditumbuhi pohon pinus. Sayangnya, pemerintah Brebes belum banyak memberikan upaya konkret pemanfaatan bukit ini untuk peningkatan ekonomi masyarakat tanpa harus merusak konservasi alam.
Taraf pendidikan masyarakat Buaran sudah cukup tinggi. Hampir setiap keluarga memiliki seorang lulusan perguruan tinggi dari berbagai universitas di Indonesia. Bahkan saat ini sudah mulai muncul putra putri Buaran yang bisa melanjutkan sekolah ke luar negeri melalui berbagai program beasiswa. Selain terdapat empat SD Negeri, yaitu SDN Pangebatan I, SDN Pangebatan III, SDN Pangebatan V dan SDN Pangebatan VII, di Buaran juga terdapat dua buah SMP, yaitu SMP Bustanul Ulum (BU) dan SMP Muhammadiyah, dan ada 2 bh Sekolah menengah atas, yaitu STM Muhammadiyah dan Madrasah Aliyah "ASSALAM". Sebuah pesantren bernama Pesantren Raudlatus Su'ada yang mengajarkan kajian kitab-kitab klasik Islam secara tradisional yang didirikan KH. Abdussalam (Alm) juga terdapat di desa ini. Semua kondisi ini menggambarkan cara pandang progresif masyarakat buaran di bidang pendidikan kenapa ini disebutkan buaran Bukanlah Kota Kecamatan dan bukan Kelurahan melainkan sebuah "DUSUN". Bahkan kemajuan kedua SMP, SMTA dan pesantren tersebut tidak terlepas dari semangat voluntarisme warga desa di bidang pendidikan ini.
Meskipun Buaran hanyalah sebuah Dusun, tetapi untuk kegiatan pemilihan Kepada Desa, Buaran Pangebatan menjadi tolak ukur bagi dusun yang lain yang ada di Kelurahan Pangebatan
BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Di Kecamatan Bantarkawung, bahasa yang digunakan sebagian besar masyarakat adalah bahasa Sunda, beberapa desa sebelah timur sebagaian besar menggunakan bahasa jawa yaitu desa cinanas, pangebatan. Wilayah Kecamatan bantarkawung, terletak antara: 108˚48’47,3” sampai dengan 108˚58’42,4” bujur timur. 7˚6’3,6” sampai dengan 7˚19’24,1” lintang selatan. Luas 205 km2 terbagi secara administratif menjadi 18 desa, 97 RW dan 413 RT. Secara topografi wilayah Bantarkawung berada pada ketinggian kurang dari 500 m dari permukaan laut. Kondisi fisik daerah berupa daratan, persawahan dan perbukitan. Kondisi perbukitan inilah yang acapkali terutama di musim “ Rendheng “ terjadi bencana alam berupa tanah longsor
Saran
Saya sebagai penulis, menyadari bahwa Laporan ini banyak sekali kesalahan dan sangat jauh dari kesempurnaan.Tentunya, penulis akan terus memperbaiki Laporan dengan mengacu pada sumber yang dapat dipertanggungjawabkan nantinya.Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran tentang pembahasan Laporan diatas.
.
DAFTAR PUSTAKA
https://id.wikipedia.org/wiki/Bantarkawung,_Bantarkawung,_Brebes https://id.wikipedia.org/wiki/Bantarkawung,_Brebes http://anakodon.blogspot.com/2011/12/kecamatan-bantarkawung.html
Komentar
Posting Komentar